UpdateKu.com. – Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki kekayaan budaya yang beragam. Salah satunya adalah tarian adat daerah. Dari Sabang sampai Merauke mempunyai tarian adat daerah dengan keunikan masing-masing.
Salah satunya adalah tarian Tua Reta Lo’u di Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Di Provinsi Jambi pun tarian ini sering dibawakan pula pada acara besar yang diselenggarakan oleh Pemeeintah Provinsi Jambi maupun Pemkot Jambi yang dibawakan oleh salah satu Organisasi Seni Budaya yang ada di Provinsi jambi yang bernama Bintang Timur Indonesia (BTI).
BTI merupakan salah satu Organisasi budaya di Provinsi Jambi yang mana BTI pun ikut mempromosikan tarian Tua Reta Lo’u itu ,Tarian Tua Reta Lo’u adalah Tarian yang sangat rutin dibawakan oleh Sanggar Bliran Sina di Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang.
Minggu (10/9/2021), saya berkesempatan kembali mendatangi Salah satu pengurus dari Organisasi Bintang Timur Indonesia . Saya diinformasikan salah satu teman.
Tepat pukul 11.00, saya tiba di rumah beliau di Kota Jambi.
Saya diperlihatkan foto dan video kegiatan BTI, pertunjukan Tari Tua reta Lo u, dimana seorang pria berbusana adat lengkap tengah lenggak-lenggok di atas sebuah bambu yang tingginya 3-7 meter. Di atas bambu itu, ia menari sambil memegang pedang. Di bawah ada kurang lebih 4 orang pria yang memegang tiang bambu itu.
Sungguh membuat detak kagum para tamu dan penonton yang menyaksikan .Saya hanya bergumam, mungkin ada kekuatan magis yang membuatnya bisa menari dan tidak jatuh dari ujung bambu itu.agar penasaran saya terjawab saya bertanya kepada Bang Hendra yang akrab disapa Hendra BTI
Apakah tarian Tua reta Lo u itu ada unsur magisnya?
“Jadi itu tarian Tua Reta Lo’u yang difoto dan di video tadi, Ini adalah tarian tradisional yang diwariskan dari nenek moyang. Tarian ini dimainkan untuk menyambut tamu yang datang. Acungan pedang dari penari di atas bambu tadi itu menjadi simbol, tamu sudah diterima di tempat yang saat ini dia datang” jelas bang Hendra kepada team UpdateKu.com
Hendra menjelaskan, Tua Reta Lo’u sebenarnya kombinasi dari 3 tarian yakni awi alu, mage mot, dan tarian Tua reta Lo’u itu sendiri. Tiga tarian ini diperankan secara berurutan oleh penari pria dan wanita.
Pertama, tarian Awi Alu, menggambarkan latihan ketangkasan tubuh bagian bawah. Di sini, para penari melompat di antara tongkat-tongkat bambu yang dimainkan penari lain.
Kedua, tarian Mage Mot, menggambarkan kekuatan dan ketangkasan tubuh bagian atas. Prosesnya sama seperti Awi Alu, tetapi tongkat bambu diangkat sejejer dengan leher,
Ketiga, tarian Tua Reta Lo’u, menggambarkan keterampilan masyarakat Sikka dalam berperang. Penari berputar ke segala arah seperti sedang memantau keadaan.
“Ke-3 rangkaian tarian tadi merupakan tarian tradisional yang menggambarkan teknik perang para leluhur Sikka khususnya etnik Sikka Krowe di masa lampau. Penari yang berputar ke segaka arah tadi masksudnya untuk memastikan situasi di sini aman. Supaya tamu yang datang juga bisa nyaman saat berada di tempat ini,” kata Hendra.
“Tarian ini diiringi irama musik tabuhan gendang dan pukulan gong dengan berbagai jenisnya,” sambung Hendra.
Ia mengatakan, tarian Tua Reta Lo’u merupakan salah satu pertunjukan kesenian yang ditampilkan kepada tamu yang berkunjung di Kabupaten Sikka.
Lanjut Hendra “Karena ini warisan budaya dari leluhur, maka kita semua baik yang asli maupun keturunan harus wajib untuk mengetahui serta melestarikannya walaupun saat ini kami diperantauan,yang menari Tarian Tua Reta Lo’u oleh Bintang Timur Indonesia adalah keturunan yaitu Piter. Inilah cara kami mempromosikan budaya Sikka ke luar Sikka Terkhusus di Provinsi Jambi ” ungkap Hendra.
Ia menambahkan, saat ini tarian Tua Reta Lo’u selalu ditampilkan dalam kegiatan instansi pemerintah seperti Pawai Budaya dan acara pemerintah Kota Jambi lainnya serta acara budaya di Provinsi Jambi.
Ia mengatakan, Tua Reta Lo’u adalah tarian kebanggaan masyarakat Sikka. Sehingga perlu dilestarikan terus menerus.Saya mengetahui serta belajar sejarah Tarian Tua Reta Lo’u dan budaya Sikka dari Bapak Kecil saya Bapak doi Gego dan kak Tarsi serta orang tua tua di Flores ,karena saya tinggal di Maumere Flores kurang lebih 15 tahun.”Jadi bang Hendra Bahasa Flores pun bisa y…?tanya saya”, ya….saya bisa,sambil tersenyum,jawab bang Hendra
“Tarian ini tidak boleh mati. Anak-anak muda kita diharapkan bisa belajar tarian Tua Reta Lo’u setidaknya tahu akan sejarah Seni dan Budaya dari tiap daerah dimana dia berasal. Budaya adalah identitas daerah. Marilah kita lestarikan budaya,” katanya mengakhiri perbincangan.(ysn)







Discussion about this post